Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Oktober 2013

Rubrik Wawancara tim MAHAPATI - Lomba majalah kampus UNDIKSHA 2013



Biodata Narasumber :


 Nama                     : Kadek Wirahyuni, S.Pd., M.Pd
Nama Panggilan   : Ira
Tanggal lahir        : Singaraja, 27 Mei 1987
Pasangan dari       : Made Suarja, S.S.Kar.,M.Si
                               Made Sriwati, S.Sn.,M.Si
Hobi                     : Menyanyi, menari, kegiatan – kegiatan sastra dan seni
Motto                   : Keberhasilan tidak akan lengkap tanpa doa dan usaha.  Teruslah berkarya !
                              
Prestasi                :
1.     Juara I Duta Bahasa tingkat Provinsi
2.     Juara Harapan II  Duta Bahasa Tingkat Nasional
3.     Juara I  Lomba Pidato Bahasa Bali Tingkat Provinsi
4. Juara I Lomba Pidato Bahasa Indonesia Tingkat Kabupaten
5. Juara I Lomba Pidato Bahasa Inggris Tingkat Kabupaten
6.   Juara I Lomba Dharma Wacana Tingkat Provinsi Bali
7.     Juara I lomba Debat se – kabupaten Buleleng
8.     Team pencerah bahasa



Manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari kebutuhan untuk berinteraksi dengan manusia lainnya. Tetapi untuk berinteraksi antara satu dengan lainnya, manusia membutuhkan suatu alat komunikasi baik itu dalam bentuk lisan maupun tulisan. Bahasa merupakan salah satu contoh alat interaksi yang dominan digunakan manusia. Bahasa menjadi sangat penting dalam kehidupan manusia karena bahasa dapat mengkomunikasikan berbagai hal yang abstrak termasuk pemikiran dan ide-ide.
Saat ini, bahasa yang digunakan dalam pergaulan menjadi semakin beragam. Termasuk juga dalam pergaulan remaja Indonesia, bahasa yang digunakan sangat beragam, mulai dari bahasa daerah, bahasa asing, dan Bahasa Indonesia. Namun yang sering digunakan remaja adalah bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia. Sering kali, mereka lebih senang menggunakan bahasa yang lazim digunakan namun sebenarnya tidak sesuai dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Bagaimana mengubah perilaku tersebut? Berikut wawancara dengan Kadek Wirahyuni, S.Pd., M.Pd, selaku dosen pengajar Bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STIBA) Hita Widya Singaraja.
1.     Bagaimana pendapat ibu tentang gaya bahasa di kalangan anak remaja saat ini ?
Kalangan remaja saat ini dalam pergaulan lebih dominan menggunakan bahasa gaul yang tidak sesuai dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Wajar saja, karena bahasa gaul sudah menjadi konvesional. Buktinya ada kamus bahasa gaul yang sudah menjadi bahasa resmi pergaulan. Diciptakan oleh Deby Sehertian. Sebenarnya, bahasa gaul tidak semuanya salah. Keberadaannya juga dapat memperkaya bahasa khasanah bahasa negeri kita. Hanya saja, sisi negatifnya, mereka jadi terbiasa dengan bahasa gaul yang digunakan. Bahasa yang lazim malah tidak dipelajari atau kurang diminati.
2.     Menurut ibu, apa penyebab penyalahgunaan bahasa pada kalangan anak remaja saat ini ?
Penyebab penyalahgunaan bahasa, karena kurangnya mediasi yang menumbuhkan minat remaja untuk mempelajari bahasa Indonesia yang benar. Selain itu, adanya pengaruh bahasa gaul, adaptasi bahasa asing, dan kurangnya motivasi untuk membaca buku - buku bacaan menjadi faktor pendorong terjadinya penyalahgunaan bahasa. Mereka lebih senang membaca lewat internet yang belum tentu kaidahnya benar daripada buku-buku bacaan dengan tata bahasa yang baik.
3.     Apa dampak yang terjadi jika salah dalam menggunakan bahasa ?
Dampaknya yaitu identitas Bahasa Indonesia kita menjadi pudar. Jika kita melazimkan bahasa yang salah maka akan menjadi suatu kebiasaan yang sulit untuk diubah. Ketika membuat karya tulis, bahasa yang digunakan bisa jadi tidak baku. Buktinya ketika ujian nasional hampir tidak ada yang pernah mendapat nilai sempurna dalam ujian Bahasa Indonesia atau ulangan umum, banyak sekali siswa yang tidak tepat menggunakan EYD ketika diminta mengarang, atau saat menjawab pertanyaan , masih banyak siswa yang menggunakan bahasa yang biasa di dengar, bukan bahasa yang lazim.
4.     Bagaimana penggunaan bahasa yang baik dan benar ?
Bahasa yang baik adalah bahasa yang situasional, sesuai dengan situasi penutur dan petutur  dengan siapa kita berbicara, dimana tempatnya, dan dalam situasi yang bagaimana. Sedangkan bahasa yang benar itu adalah bahasa yang sesuai tata aturan bahasa Indonesia.
5.     Bagaimana cara mendidik generasi muda agar terbiasa  berbahasa yang baik dan benar ?
Dengan meminta tulisan atau karya tulis dan membiasakan mereka menulis serta mengkoreksi kebenarannya, lalu mereka mengadakan evaluasi sehingga mereka terbiasa dengan tulisan yang benar. Guru dan media juga sangat berperan penting menjaga indentitas bahasa Indonesia. Guru dapat mengajak siswa bermain kata, media bisa mempromosikan bahasa yang baik dan benar melalui iklan-iklan yang menarik atau perlombaan cepat tepat atau cerdas cermat bahasa Indonesia.
6.     Apa harapan Ibu ke depannya agar tidak terjadi penyalahgunaan bahasa ?
Harapan ibu, generasi muda mau menjaga bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan bangga. Dengan demikian secara tidak langsung kita turut mengisi kemerdekaan dan menjaga kebanggaan Negara kita ini. Bukan berarti menyampingkan bahasa gaul atau bahasa asing, tapi kita harus bijaksana menggunakan bahasa-bahasa tersebut. Dan jangan terlena menggunakannya sampai meremehkan bahasa persatuan kita, yakni bahasa Indonesia.

(PU)

Feature tim MAHAPATI - Lomba majalah kampus UNDIKSHA 2013



MIMPI TIDAK AKAN PERNAH TUA



Kaki Mentari hampir menginjak tanah sebelah barat. Tangisan sikecil memecah nyanyian daun-daun mangga. Batuan yang terpijak tak bisa  mengelak, diam menyaksikan suara parau yang bercerita.


            Desa Siangan, Gianyar. Sebuah rumah bergaya bali, dengan pohon mangga yang besar ditengah pekarangannya. Dahan anggrek yang mengitari balai dauh saling bertatapan dengan batang mangga, terasa segar. Daun-daun tua yang hampir gugur menyaksikan kesehariannya menerawang wajah-wajah muda  yang kelak akan melanjutkan cita-cita juga harapan bangsa.  Bukan karena uang, bukan pula karena materi, semata-mata karena wajah-wajah muda nan riang yang nantinya akan melanjutkan cita-cita dan harapan bangsa ini.

            Tiga puluh delapan tahun menikmati suasana kelas, merasakan aroma canda tawa dan ringkikan anak-anak remaja. Keringat yang mengalir tak menghalangi terkembangnya sebuah senyum di bibirnya. Raut wajahnya lelah, namun ia toh tak menggubrisnya. Sikapnya penuh ekspresi, tutur katanya tak pernah keras sekalipun suara gaduh yang tercipta tak kunjung reda. Semua ini hanya separuh dari perhatiannya, sepenuhnya ia masih ingat bagaimana  mata-mata indah menatapnya,  tatapan remaja yang belum mengenal tujuan hidupnya.

            Drs. Ida Bagus Sutha Tenaya, telah mengabdi di SMK N 1 Gianyar hingga di usianya yang ke-61. Usia senja, namun harapannya masih sama seperti saat pertama ia mengajar . Kini, ayah dari dua anak ini menikmati masa tuanya bersama dua cucu dari anak pertamanya, atau sesekali ia menyuburkan kebunnya. Kulitnya yang sawo matang semakin tua dan lemah. Penuh garis kerutan, lusuh. Layaknya kertas yang tergumpal, ketika dikembangkan akan terlihat rumitnya lipatan. Hatinya semakin pilu tatkala menyadari bahwa bahasa yang digunakan anak-anak tak lagi seperti yang ia ajarkan. Dia yang telah jatuh cinta pada profesinya, hingga setiap detik tak pernah merasa bosan memikirkan apa yang dapat dipersembahkan kepada bangsa ini, beserta calon pemiliknya. Tetapi yang disaksikannya, mata pelajaran bahasa indonesia yang ia ajarkanpun seolah hanya sebagai formalitas untuk mendapatkan standar kelulusan ataupun sekedar mencari nilai. Serasa sia-sia, tapi tak berdaya.

            Lelaki tua ini menyadari, manusia memang tiada yang sempurna seperti halnya dia. Karena  ketidaksempurnaan itu, dia tidak punya daya untuk mengelak rasa. Jika kenyataan tentang harapannya hanya berlatar kekecewaan.  Dia tahu betul bahwa tidak selamanya apa yang menjadi harapan akan terwujud. Namun hidup tidak akan berhenti hanya karna ini semua. Semua akanlah terasa indah dan bermakna jika kita mencoba untuk menikmatinya. Mimpi akan selalu ada, dan tidak mengikutinya menjadi tua. 

Wajahnya tenang, badannya kini kurus dengan tenaga  yang lemah karena tersita usia. Namun semangat hidupnya amatlah luar biasa, ia tak lebih dari seorang pensiunan yang khawatir akan generasi muda. Dia telah memutuskan untuk menjadi seorang guru, melangkah pelan merangkul mereka dalam dekapan. Meski tak lagi bisa mengajar, namun jiwa mendidik merupakan bagian dari perjalanan hidupnya. Tak mudah untuk melepaskan tangan mereka, tak mudah untuk melepaskah rasa cemas dari fikirannya.

(icha)


Tajuk Rencana tim MAHAPATI - Lomba majalah kampus UNDIKSHA 2013


Globalisasi, tentu saja banyak ‘menggigit’ berbagai aspek nasional tertentu dalam suatu bangsa. Identitas bangsa mulai tidak dikenal lagi, budaya luhur yang menjadi warisan mulai diletakkan dengan tersembunyi, bahkan ada yang mencoba untuk mencampur adukkan dan berusaha untuk membuat kata “globalisasi” itu menjadi nyata.


Salah satu aspek yang mengalami perubahan yang terlihat adalah bahasa. Tak ayal peggunaan bahasa sekarang menggunakan bahasa yang tidak tercantum di kamus besar bahasa Indonesia. Bercermin dari sikap remaja sekarang, dilihat bahwa latah mengikuti temannya yang menggunakan bahasa yang dilebih-lebihkan namun mereka tidak tahu makna dari kata yang mereka ucapkan. Hendaknya kita mengucapkan apa yang kita tahu, karena terkadang salah ucap salah makna. Jadi kita harus mengenali apa yang kita ucapkan, sesuai dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan sesuai dengan ejaan yang seharusnya.

Perubahan gaya bahasa kaum remaja saat ini disebut dengan bahasa alay. Apa itu Bahasa Alay?  Alay adalah singkatan dari Anak layangan, Alah lebay, Anak layu atau Anak kelayapan yang menghubungkannya dengan anak jarpul (Jarang Pulang). Tapi yang paling terkenal adalah Anak layangan. Dominannya, istilah ini menggambarkan anak yang menganggap dirinya keren secara gaya busananya. Menurut Koentjaraningrat, Alay adalah gejala yang dialami pemuda dan pemudi bangsa Indonesia, yang ingin diakui statusnya di antara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakaian, sekaligus meningkatkan kenarsissan yang cukup mengganggu masyarakat pada umumnya. 

Sebenarnya apa yang meyebabkan bahasa alay itu mudah tersebar luas dibandingkan bahasa yang baik dan benar? Itu semua merupakan dampak dari lingkungan, kebiasaan dan sosial media seperti twitter,facebook, dan maraknya aplikasi jejaring sosial yang di sediakan oleh suatu jaringan komunikasi tertentu. Anak muda jaman sekarang tidak pernah lepas dari twitter,facebook, dan berbagai sosial media lainnya. Semakin banyak yang menggunakan berbagai situs-situs sosial tersebut maka semakin banyak pula perkembangan bahasa alay. Penyebab lainnya adalah tayangan televisi, masyarakat pasti akan menirukan cara berbicara idolanya. semakin sering artis mengucapkan kata alay maka semakin sering juga masyarakat menggunakan bahasa alay. Dan itu bisa membawa dampak yang tidak baik bagi bangsa Indonesia. Dampak negatifnya adalah penggunaan bahasa Alay dapat mempersulit penggunanya untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Padahal di sekolah atau di tempat kerja, kita diharuskan untuk selalu menggunakan bahasa yang baik dan benar. Tidak mungkin jika pekerjaan rumah, ulangan atau tugas sekolah dikerjakan dengan menggunakan bahasa Alay. Karena, bahasa Alay tidak masuk ke dalam tatanan bahasa akademis. Begitu juga di kantor, laporan yang kita buat tidak diperkanakan menggunakan bahasa Alay. Jadi, ketika situasi kita dalam situasi yang formal jangan menggunakan bahasa Alay sebagai komunikasi. Dampak negatif lainnya, bahasa Alay dapat mengganggu siapapun yang membaca dan mendengar kata-kata yang termaksud di dalamnya. Karena, tidak semua orang mengerti akan maksud dari kata-kata Alay tersebut. Terlebih lagi dalam bentuk tulisan, sangat memusingkan dan memerlukan waktu yang lebih banyak untuk memahaminya.

Saat ini penggunaan bahasa Indonesia akan diatur Undang-Undang dengan tujuan agar masyarakat luas khususnya para remaja tidak seenaknya menggunakan bahasa Indonesia. Karena di era Globalisasi ini sudah banyak terjadi penyalahgunaan Bahasa Indonesia. khususnya di kalangan remaja, karena bahasa-bahasa yang tidak sesuai dengan bahasa indonesia yang baik dan benar sangat mudah tersebar luas di kalangan masyarakat.


(tami,arista,arik)

Laporan Utama tim MAHAPATI - Lomba majalah kampus UNDIKSHA 2013






“Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan”. Daripada kita mengutuk kegelapan dengan terus-terusan menyalahkan kaum alay yang merusak sistem tata bahasa kita melalui ‘kreativitas’ mereka atau dengan terus-terusan menggerutu lantaran generasi muda kita menulis dan berbicara ala gaul di tengah acara formal, sebaiknya kita menyalakan lilin dengan berbuat sesuatu.
Seperti yang tercantum pada detik.com, (1/9/2013) acara pertunangan Zaskia 'Gotik' dan Vicky Prasetyo menghiasi halaman depan semua media hiburan. Bukan soal berita penipuan, tetapi karena gaya bicaranya yang menjadi bahan olok-olok di internet.  hasil wawancara tersebut,Vicky menggunakan gaya bahasa yang 'unik.'Hal ini tersebut merupakan salah satu penyalahgunaan bahasa karena diperparah dengan penggunaan bahasa Inggris dan kata-kata serapan yang tak pada tempatnya.

“Parah”, kata yang tepat untuk diungkapkan jika bahasa gaul dan bahasa-bahasa trend lainya di zaman sekarang ini, membuat kaum remaja tidak bisa berbahasa indonesia yang baik dan benar. Ada ungkapan bahwa Bahasa yang digunakan seseorang mencerminkan pribadinya. Seperti kata – kata ini ,Gaul, dong! Pede aja lagi! Kasihan deh, lo! Nyantai aja, Coy! Begitulah antara lain “bahasa gaul” yang seringkali kita dengar di kalangan remaja kini. ‘Bahasa gaul” itu seakan telah menjadi bahasa resmi mereka. Bahkan bila dalam pergaulan mereka ada diantaranya yang menggunakan bahasa Indonesia, katakanlah yang baku, penggunaan bahasa tersebut seolah terdengar aneh dan dianggap norak dalam komunitasnya. Tidak salah sebenarnya, apabila para remaja menggunakan “bahasa gaul”. Sedangkan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tentu Pusat Pembinaan Bahasa yang lebih berkompeten mengurusnya, Yang jelas-jelas salah adalah, jika “bahasa gaul” yang digunakan bersinggungan dengan nilai-nilai moral dan agama. Namun nyatanya, disadari atau tidak, justru hal itu yang sering terjadi. Dengan kata lain, banyak penggunaan “bahasa gaul” yang makna aplikatifnya cenderung tidak dibatasi oleh nilai-nilai atau norma-norma tadi.
Seperti yang diungkapkan oleh Drs. I Made Kartama, seorang guru fisika SMA N 1 Semarapura mengatakan bahwa diera globalisasi saat ini banyak hal-hal baru yang bermunculan, baik itu yang bersifat positif maupun negatif salah satunya mengenai bahasa kita, Indonesia memiliki bahasa ibu yaitu Bahasa Indonesia, sebagai warga negara  Indonesia kita hendaknya mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar namun dengan pergerakan zaman bahasa Indonesia mulai tergerus oleh bahasa-bahasa asing maupun bahasa-bahasa serapan yang dibuat oleh remaja-remaja saat ini.

Penggunaan bahasa alay seolah menjamur dan menjadi kebiasaan di kalangan remaja, bahkan anak-anak kecil juga merasa bangga menggunakan bahasa tersebut. Adanya bahasa alay menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat, beberapa masyarakat mengatakan bahwa dengan bahasa alay remaja bisa semakin mudah bergaul dan lebih mampu mengekpresikan apa yang ingin ia sampaikan, namun biasanya digunakan diluar forum formal. Namun ada juga yang kurang setuju dengan bahasa tersebut karena dianggap sebagai suatu tindak nyata untuk mulai melupakan bahasa ibu kita. Dengan adanya bahasa tersebut remaja di era gobalisasi sedikit yang mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar, mereka seolah terpaksa menggunakan bahasa Indonesia yaitu ketika mereka berada di forum formal contohnya sekolah. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah kita menggunakan bahasa Indonesia berdasarkan keterpaksaan atau keikhlasaan karena jika diluar forum formal sedikit yang mau menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
 
Selain itu, tokoh agama  di banjar kesian desa lebih Gianyar ini juga mengatakan pada dasarnya penggunaan bahasa Indonesia di era sekarang sudah cukup baik karena sejak usia dini kita sudah diajarkan bahasa ibu yaitu bahasa Indonesia akan tetapi biasanya setiap remaja akan memiliki kendala ketika mereka terjun ke lingkungan masyarakat karena biasanya untuk di daerah-daerah tertentu ketika mereka terjun kemasyarakat mereka dituntut untuk menggunakan bahasa daerah sehingga tidak dapat menerapkan bahasa Indonesia dengan baik.

 Beliau juga menuturkan remaja sekarang sering menggunakan bahasa yang lagi ngetren atau populer namun tanpa tahu makna dari bahasa itu sendiri. Bahasa digunakan sebagai sarana untuk membantu menambah eksistensi remaja dikalangan teman-temannya. Sehingga seolah-olah remaja sekarang menggunakan bahasa hanya untuk bergaya-gayaan. 

Tak ubahnya seperti yang diungkapkan oleh Eka Arta Wibawa seorang mahasiswa jurusan Pendidikan Teknik Informatika semester 5, menyatakan bahwa perkembangan bahasa indonesia yang baik dan benar akan mengalami perubahan jika adanya trend penggunaan bahasa asing dan bahasa-bahasa yang dianggap cocok buat mereka. Menurutnya, jika bahasa trend itu tetap berlanjut maka akan mengakibatkan generasi muda lupa untuk menggunakan bahasa indonesia yang benar. Orang tua dan guru perlu memberikan bimbingan kepada remaja agar bahasa indonesia yang baik dan benar tidak tertinggal, apalagi jika terus-terusan berpihak pada bahasa “vicky”. Ini tidak bisa dibenarkan karena akan mengubah eksistensi bahasa indonesia yang baik dan benar, ungkapnya.
Dewasa ini, keprihatinan terhadap pemakaian Bahasa Indonesia yang baik dan benar semakin meningkat. Memang data penelitian terhadap gejala ini tidak disertakan. Namun, keprihatinan akan hal tersebut tidak bisa dipungkiri lagi. Idealnya, bangsa Indonesia dari segala generasi harus mampu menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan. Hal ini sangat penting, mengingat Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang memersatukan negeri ini. Otomatis, bahasa nasional ini harus dipakai dalam segala kegiatan yang bersifat formal dan kelembagaan, termasuk segala kegiatan di bidang pendidikan. Namun kenyataan yang terjadi adalah bahasa gaul yang seharusnya hanya menjadi bahasa pergaulan telah masuk ke ruang praktis pendidikan.

Tak ayal peggunaan bahasa sekarang menggunakan bahasa yang tidak tercantum di kamus besar bahasa Indonesia. Begitu ungkap Komang Ayu Ratnasari di sela-sela kesibukaannya menjaga keamanan Negara. Polwan yang satu ini menyatakan bahwa “remaja sekarang menggunakan bahasa yang dilebih-lebihkan, dan menganggap dengan menggunakan bahasa itu mereka terlihat gaul. Dampak dari remaja yang sering menggunakan bahasa yang dilebih-lebihkan ialah merosotnya nilai bahasa, seolah-olah bahasa Indonesia mulai dilupakan sedangkan disisi lain bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa Indonesia jika itu dilupakan apa yang akan terjadi terhadap bangsa ini ? “. Tukasnya. 

Bercermin dari sikap remaja sekarang, beliau mengungkapkan remaja yang sering latah mengikuti temannya yang menggunakan bahasa yang dilebih-lebihkan namun mereka tidak tahu makna dari kata yang mereka ucapkan, hendaknya kita mengucapkan apa yang kita tahu , karena terkadang salah ucap salah makna jadi kita harus mengenali apa yang kita ucapkan, dan sesuai dengan bahasa indonesia yang baik dan benar, dan sesuai dengan ejaan yang seharusnya.

Bahasaku dan Bahasamu
Ada kenyataannya, membedakan bahasa yang baik dan benar sangat sulit. Pandangan orang yang satu dengan lainnya terkadang berbeda, begitu pula pemahaman seseorang terhadap suatu kalimat. Kalimat bahasa Indonesia sering kali ambigu dan memiliki arti berbeda tergantung pada intonasi dan penjedaan dalam pengucapan. Bahasa Indonesia yang baik juga bersifat situasional, sesuai dengan situasi dan orang yang menjadi lawan bicara sehingga perbedaan cara seseorang memandang situasi yang dihadapi menyebabkan perbedaan bahasa yang digunakan.

Sama halnya yang diungkapkan Made Windu Antara Kesiman,S.T,M.Sc. seorang dosen Jurusan Pendidikan Teknik Informatika. Menurut beliau penggunaan bahasa itu kita tidak bisa mengatakan penggunaanya baik atau buruk, kita harus melihat pengguna bahasa itu dalam kondisi yang seperti apa, jika berbicara dengan teman, dan dengan menggunakan bahasa itu bisa mengakrabkan hubungan, kenapa tidak ? kita harus tahu tempat kita berbicara harus mampu mengkondisikan diri, artinya disaat kita dituntut untuk berbicara formal, hendaknya gunakan bahasa formal, sehingga terlihat kesan sopan dan santun namun tidak menutup kemungkinan hal itu diperbolehkan. Jika kita bilang bahasa yang seperti itu mengganggu, sebenarnya tidak, melainkan dilihat dari penggunanya. Jika misalkan bahasa yang seperti itu digunakan dalam membuat tugas tentu hal itu salah, jadi pada dasarnya kita harus mampu melihat situasi dan kondisi layakkah kita menggunakan bahasa tersebut.
Jika kita tepat dalam penentuan situasi dan kondisi penggunaan bahasa seperti itu menurut beliau tidak masalah karena itu termasuk memperkaya bahasa karena bahasa berevolusi,  jadi memang harus dikembangkan,selain itu bahasa tercipta karena kesepakatan dari beberapa pihak.
Jika membahas keterpaksaan dikalangan siswa untuk menggunakan bahasa Indonesia, hal itu mungkin benar, karena di lingkungan sekolah tentu ada peraturan dan norma-norma yang mengatur siswa tersebut termasuk aturan dalam berbicara sehingga siswa tersebut terikat akan aturan tersebut. Namun keterpaksaan dalam artian norma yang harus diikuti, beliau belum pernah mendengar siswa yang yang mengeluh karena dipaksa menggunakan bahasa Indonesia, menggunakan bahasa yang baik tidak harus semua sesuai dengan EYD tapi mampu menempatkan situasi dan kondisi serta tahu kosa kata yang digunakan hal itu sudah termasuk berbahasa yang baik.
Jika berbicara melupakan bahasa Indonesia karena ada bahasa-bahasa baru yang diciptakan beliau tentu tidak setuju, karena masih ada beberapa event yang mengharuskan kita untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia formal. Sejauh ini belum ada wacana pemerintah yang menggagas untuk melupakan bahasa Indonesia tapi generasi muda yang cenderung lebih menggunakan bahasa pergaulan karena lingkungan pergaulannya. Bahasa itu adalah salah satu seni pergaulan, semakin sering seorang anak bergaul dilingkungan yang menggunakan bahasa tersebut, maka anak itu akan terlatih untuk berbicara menggunakan bahasa itu. Jadi penggunaan bahasa tergantung lingkungan sekitarnya juga.
Pendapat senada pun diungkapkan oleh Ni Wayan Wistari. Menurut Ketua HMJ Pendidikan Bahasa Indonesia ini, penggunaan bahasa sekarang perkembangannya dipengaruhi oleh jaman, tentu saja sebagai remaja kita merasa gengsi menggunakan bahasa yang baik, apalagi sekarang muncul bahasa alay, hal itu dikarenakan jaman dan gengsi dari remaja itu sendiri. Remaja yang mengikuti jaman dengan berbahasa-bahasa alay karena ingin terlihat keren dan gaul dimata teman-teman pergaulannya, hal itu menjadi alasan dasar kenapa remaja suka menggunakan bahasa alay.
Adanya bahasa alay tidak mengancam, arena itu hanyalah kreatifitas orang, yang terpenting semua itu kembali Kediri orang itu sendiri jika ia ingin menggunakan bahasa alay yang penting ia tidak melupakan bahasa Indonesia, sehingga dia tetap menggunakan bahasa Indonesia tergantung situasi dan kondisi dimana ia berbicara.Kita sebagai bangsa Indonesia harus tetap menggunakan bahasa Indonesia jadi menggunakan bahasa alay, tapi tetap menjaga Bahasa Indonesia, dan tetap mengkreatifitaskan bahasa.
Rendahnya minat remaja menggunakan Bahasa Indonesia secara umum besarnya pengaruh jaman sehingga sekarang remaja lebih suka menggunakan bahasa campuran yaitu bahasa asing. Remaja tidak terlalu perduli terhadap bahasa karena lebih mementingkan gengsi.
Sebagai generasi muda yang menjadi harapan bangsa, remaja sekarang seharusnya bisa belajar Bahasa Indonesia yang baik dan benar tanpa melupakan bahasa daerah  atau menutup diri dari adanya bahasa-bahasa baru. Dengan menggunakan bahasa baru bukan berarti melupakan dan mengabaikan Bahasa Indonesia, bahasa nasional yang menjadi pemersatu di tengah keberagaman suku, ras, dan agama. Menjaga Bahasa Indonesia bukan berarti pantang berbahasa baru atau menggunakan bahasa daerah, sebaliknya hal ini menjadi nilai lebih bagi remaja Indonesia jika mampu menyelaraskan penggunaan bahasa-bahasa tersebut sesuai situasi dan kebutuhan sehingga mampu memperkaya dinamika pergaulan remaja.  
(susi)